Bandung Film Initiative Awards (BFIA) 2022

Bandung,TJI – Film panjang pertama Indonesia Loetoeng Kasaroeng (1926) menandai awal kontribusi
Bandung terhadap perkembangan film nasional. Selain itu, pada 30 Maret 1950.

Bandung pernah juga dijadikan tempat syuting film film “Darah dan Doa” karya pahlawan nasional Usmar Ismail. Tapi seiring waktu setelahnya, kiprah perfilman di Kota Kembang seolah meredup.

Bandung hanya mampu memasok talenta bintang ataupun para tokoh di belakang layar ke Jakarta, yang terbentuk menjadi sentralnya perfilman nasional. Padahal tercatat dari masa ke masa Bandung telah menyumbang banyak judul film terbaiknya seperti Mat Peci (1978), Kabayan Saba Kota (1989), From Bandung with Love (2008), Cin(T)a (2009), Preman Pensiun (2015), Naga Bangor (2015), Rocker Balik Kampung (2018), Dilan 1990 (2018), Bike Boyz (2019) dan lainnya yang lebih jauh telah memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung kepada kehidupan sosial masyarakat dalam hal ini pada bidang pariwisata dan ekonomi lokal Bandung.

Persoalannya mungkin terletak karena tidak adanya stimulus yang tepat dan konsisten kepada sineas lokal khususnya pada talenta baru untuk terus berkarya memproduksi karya. Terlebih ditengah metamorfosis perfilman yang berkembang dari semula layar tancap menjadi lebar, layar kaca dan kini menjadi layar sentuh yang ditemukan dalam kamera pintar. Oleh karenanya Bandung Film Initiative Awards (BFIA) bermaksud hadir untuk mulai memberikan stimulus tersebut dengan fungsinya yang tidak hanya sebagai ruang apresiasi dan inkubasi karya tapi juga sebagai gerakan menuju “Bandungwood” dimana ekosistem dan industri film lokal bisa tumbuh kembang menopang perkembangan film nasional.

BFIA sendiri bermaksud menasbihkan diri untuk menjadi lembaga yang nantinya akan berfokus kepada pembiayaan film.

Harapannya, BFIA bisa terus mendorong semangat para sineas di Bandung dan Jawa
Barat untuk terus memproduksi film, bukan hanya sebagai karya seni namun sedikit demi sedikit diarahkan untuk bisa memiliki nilai tambah sebagai sebuah produk film sehingga dapat berkelanjutan tanpa harus bingung mencari pembiayaan produksinya.

Dengan banyaknya produksi film tersebut tadi, Bandung diharapkan kembali jadi simpul gerakan film nasional dengan“lautan” filmnya. Gelaran perdana BFIA 2022 bertema “Semua Bandung” akan berisi 3 (tiga) program utama yaitu Apresiasi Film, Kompetisi Ide Cerita & Pitching Forum.

Berlangsung mulai Januari hingga
Juni 2022 dimulai dengan rangkaian kegiatan pra-event (Januari-Maret 2022) yaitu kegiatan screening film mingguan, workshop & podcast filmmaking.

Dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan main-event (17-19 Maret 2022) berisi kegiatan screening film nominasi programApresiasi Film, screening film-film Bandung dari masa ke masa yang dibuka dengan film “Darah & Doa” karya Usmar Ismail, talkshow & workshop filmmaking, film project exhibition, dan kegiatan pitching forum dimana para filmmaker akan mempresentasikan proyek film mereka dihadapan para investor dan sponsor.

Rangkaian kegiatan main-event akan ditutup dengan perhelatan BFIA 2022 Awarding Night dimana film terbaik, ide cerita dan juga proyek film akan mendapatkan apresiasi berupa pembiayaan produksi film.

Setelahnya, sebagai kelanjutan dari
program Apresiasi Film & Kompetisi Ide Cerita akan ada Post-Event yaitu berupa kegiatan Short Lab (kegiatan developing dan penulisan naskah) dilanjutkan dengan kegiatan produksi film pendek dengan didampingi oleh para mentor & filmmaker profesional.

Film hasil produksi kemudian akan didistribusikan ke perhelatan festival-festival film baik nasional maupun
internasional sebelum akhirnya tayang di official screening platform yang bekerjasama dengan BFIA. Semua program-program BFIA 2022 nantinya akan mulai diluncurkan pada awal Januari 2022 melalui website resmi www.bfiawards.id dan instagram @bfiawards.

Merealisasikan BFIA dengan gerakan Bandungwoodnya memang bukan perkara mudah mengingat BFIA memang didesain bukan sebagai event semata namun sebuah gerakan berkelanjutan yang memiliki misi menjadikan Bandung sebagai kota industri film.

Namun rasa optimisme untuk mencapai hal tersebut tetap ada karena dalam pelaksanaannya, BFIA 2022
telah didukung oleh 4 (empat) lembaga yang telah berkomitmen untuk mensukseskan acara ini yaitu PT. Maha Padmasana Indonesia dengan Group Master People-nya, Bandung Film Commission (BFC), Ruang Pekerja Film dan juga PT. Jaswita Jabar sebagai pengelola gedung De Majestic yang merupakan official venue BFIA 2022 yang bersama-sama dukung dalam sebuah Konsorsium Bandungwood yang direncanakan kelak akan menjadi Bandungwood Foundation.

Hanya modal sosial ini belum cukup untuk merealisasikan rencana ini, BFIA 2022
butuh dukungan dari berbagai pihak yang dalam hal ini yaitu :

● Investor & sponsor untuk mendukung kebutuhan pembiayaan film

● Filmpreneur & Filmmaker untuk menyiapkan film dan ide-ide cerita lokal untuk dibiayai

● Masyarakat umum untuk mengapresiasi film-film yang telah dibuat oleh para
Filmpreneur & Filmmaker dengan menontonnya secara offline maupun online melalui platform yang legal. Dengan adanya dukungan pihak-pihak tersebut tadi barulah BFIA 2022 bisa terlaksana namun bukan hanya eventnya saja yang terlaksana namun dengan demikian kita bersama akan mulai menstimulasi adanya industri film di Bandung & Jawa Barat karena terciptanya “small economic circle” di dalamnya dengan harapan ini dapat menjadi sebuah program yang rutin berlangsung setiap tahun.

Mimpi besar ini bagaimanapun harus dimulai dengan sedikit inisiatif!!!

Berita Terkini