Demi Turis nyaman, Angkot diberhentikan sementara , Supir diganti Rp 500.000,-

Bandung Tanpa Angkot di Malam Tahun Baru, Strategi Kenyamanan Wisata yang Dibarengi Kompensasi Sopir

KDM mengambil langkah strategis untuk kota bandung menjelang malam pergantian tahun dengan meliburkan operasional angkutan kota (angkot) selama dua hari, yakni pada malam tahun baru dan hari pertama tahun baru. Kebijakan ini diambil sebagai upaya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang memadati Kota Bandung pada momen puncak liburan.

Gubernur Provinsi Jawa Barat KDM menyampaikan bahwa kebijakan tersebut bertujuan mengurai kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi setiap akhir tahun, sekaligus meningkatkan citra Bandung sebagai kota tujuan wisata yang tertib dan ramah pengunjung.
Dengan berkurangnya kendaraan angkutan umum konvensional di sejumlah titik padat, pemerintah berharap mobilitas wisatawan dapat berjalan lebih lancar.

Namun, pemerintah menyadari bahwa kebijakan ini berdampak langsung pada para sopir angkot yang menggantungkan penghasilan harian dari setoran penumpang.
Untuk itu, KDM menyiapkan kompensasi sebesar Rp500 ribu per sopir selama masa libur operasional tersebut. Dana kompensasi ini diberikan sebagai bentuk kehadiran negara agar kebijakan publik tidak menimbulkan kerugian sepihak bagi kelompok tertentu.

Sejumlah sopir angkot menyambut kebijakan tersebut dengan sikap beragam.
Sebagian menyatakan dapat menerima peliburan sementara asalkan kompensasi diberikan secara tepat waktu dan merata.
“Kalau memang diliburkan dan ada pengganti pendapatan, kami bisa menerima.
Yang penting jelas dan tidak memberatkan,” ujar seorang sopir angkot trayek Cicaheum – Ledeng

Di sisi lain,
warga dan wisatawan diimbau untuk menggunakan moda transportasi alternatif selama angkot diliburkan.
Pemerintah juga menyiagakan petugas di sejumlah titik keramaian guna memastikan arus lalu lintas dan keselamatan publik tetap terjaga.

Kebijakan ini pun menuai perhatian publik karena dinilai sebagai langkah berani dalam pengelolaan transportasi perkotaan. Meski hanya berlangsung dua hari, peliburan angkot di momentum strategis ini menjadi uji coba penting bagi Kota Bandung dalam menyeimbangkan kepentingan pariwisata, ketertiban kota, dan kesejahteraan pekerja sektor transportasi.

Ke depan,
publik menanti evaluasi menyeluruh dari pemerintah: apakah kebijakan serupa akan kembali diterapkan, dan sejauh mana kompensasi yang diberikan benar-benar mencerminkan keadilan bagi para sopir.
Dua hari tanpa angkot mungkin singkat, tetapi dampaknya akan menjadi catatan penting dalam arah kebijakan transportasi Kota Bandung di masa mendatang.

Berita Terkini