Sorak-sorai menggema sejak pagi di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Lantai pertandingan bergetar oleh hentakan langkah, teriakan kiai para atlet, dan tepuk tangan ribuan pendukung yang memenuhi tribun.

Selama dua hari, 14–15 Februari 2026, arena ini menjelma menjadi panggung adu mental, teknik, dan semangat juang dalam Kejuaraan Taekwondo Antar Unit se-Jawa Barat — ITN Open IX.
Sekitar 2.600 atlet dari 188 unit dan klub, mewakili 24 kabupaten/kota, tumpah ruah membawa warna dan kebanggaan daerah masing-masing.
Dari kategori pemula hingga prestasi, setiap pertandingan menghadirkan intensitas yang membuat penonton nyaris tak berkedip.
Tendangan cepat memecah udara, strategi berubah dalam hitungan detik, dan setiap poin yang tercipta disambut gemuruh tribun.

Atmosfer kompetisi terasa hidup namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Para pelatih berteriak memberi instruksi di sudut arena, wasit sigap mengawal jalannya laga, sementara atlet menunjukkan disiplin khas taekwondo, hormat sebelum dan sesudah bertanding menjadi penanda bahwa kemenangan bukan sekadar skor, melainkan karakter.
Ketua Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Barat, Divie, SH., MH., menegaskan bahwa besarnya animo peserta menjadi tantangan sekaligus kehormatan bagi penyelenggara.
Ia menekankan pentingnya pembenahan menyeluruh demi menjaga kualitas kompetisi.
“Makanya saya menitipkan itu tetap selalu berbenah, baik secara administrasi, secara penyelenggaraan maupun secara kualitas dalam menjamu,” tegasnya.
Baginya, konsistensi dalam perbaikan adalah fondasi kepercayaan.
Kejuaraan bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga cermin profesionalisme organisasi di mata publik dan daerah.
Di tengah riuhnya pertandingan, momen emosional datang dari Master Suryana, sesepuh sekaligus penggagas ITN Open.
Wajahnya memancarkan kebanggaan saat menyaksikan ribuan taekwondoin muda memenuhi arena.
Ia melihat ITN Open bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pembentukan mental juara.
“Bagi saya ITN Open menjadi kawah candradimuka untuk membina taekwondoin bertalenta mumpuni. Saya merasa bangga ITN Open mampu menjaga konsistensi penyelenggaraan. Kalau tidak terpotong pandemi COVID, tahun ini adalah penyelenggaraan kesepuluh,”
ujarnya seusai penutupan, Minggu malam (15/2/2026).
Antusiasme yang memuncak sepanjang kejuaraan menjadi bukti bahwa pembinaan taekwondo di tingkat unit dan cabang berjalan dinamis. Setiap pertandingan menghadirkan cerita tentang keberanian atlet muda menantang batas diri, tentang pelatih yang tak lelah membimbing, dan tentang komunitas yang tumbuh bersama semangat bela diri.
Saat lampu arena mulai meredup di malam penutupan, satu hal terasa jelas: ITN Open IX bukan sekadar kalender tahunan. Ia adalah perayaan dedikasi, disiplin, dan mimpi ribuan atlet muda Jawa Barat.
Dan bagi siapa pun yang hadir atau bahkan hanya menyimaknya, energi kompetisi itu terasa nyata, seolah mengajak semua untuk kembali berdiri di arena, siap bertarung dengan semangat terbaik.
