Semarak Hari Pramuka di Padalarang: 5 Desa Bersatu Kobarkan Semangat Nasionalisme di Era Digital

Padalarang ,buletinkompaspagi.id | Pagi itu, langit Kecamatan Padalarang berbalut semangat. Suara derap kaki pasukan baris-berbaris berpadu dengan kibaran Merah Putih, membentuk harmoni yang menggetarkan hati. Hari Pramuka menjadi momentum di mana lima desa—Cimerang, Kertajaya, Jayamekar, Cipeundey, dan Desa Padalarang—bersatu dalam satu tujuan: menyalakan kembali api nasionalisme di tengah arus perubahan zaman.

Camat Padalarang, Agus Ahmad, S.STP., M.Si, memimpin jalannya upacara bersama jajaran perangkat kecamatan, tokoh masyarakat, dan unsur kepemudaan. Disiplin para peserta, pembacaan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, serta nuansa kebangsaan yang kental menjadi penanda bahwa Gerakan Pramuka di Padalarang tetap hidup dan relevan.

 

“Pramuka bukan sekadar perkemahan atau baris-berbaris. Ini adalah ruang pembentukan karakter, tempat menumbuhkan kepemimpinan, nasionalisme, dan kepedulian sosial. Di era digital, Pramuka harus menjadi pelopor adaptasi teknologi, pembawa pesan positif, dan benteng melawan hoaks,” tegas Agus Ahmad.

 

Perayaan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Asta Cita Pembangunan Nasional yang dicanangkan Presiden RI, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto, khususnya dalam gerakan swasembada dan ketahanan pangan. Konsep ini diharapkan bisa dimulai dari desa melalui kegiatan produktif yang melibatkan masyarakat secara langsung.

 

Lebih dari sekadar peringatan, kegiatan ini membuktikan bahwa Pramuka di Padalarang mampu mengasah life skill, soft skill, dan hard skill para anggotanya, menguatkan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik. Sejarah telah mencatat, mereka selalu berada di garis depan ketika bangsa memanggil—dari penanggulangan bencana, bakti sosial, hingga pengamanan arus mudik.

 

Puncak acara diramaikan penampilan seni budaya yang memadukan kekayaan tradisional dan kreativitas modern. Tarian, musik, dan drama bertema persatuan mengalun, seakan mengingatkan semua bahwa kemajuan tidak boleh memutus akar budaya.

 

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Pramuka Padalarang memberi pesan sederhana namun mendalam: teknologi boleh mengubah cara kita berinteraksi, tetapi semangat persatuan, gotong royong, dan cinta Tanah Air adalah nilai yang tak tergantikan.Red Derry

Berita Terkini