Ketika laporan keuangan proyek kereta cepat “Woosh” menunjukkan angka rugi yang cukup signifikan, publik kembali mempertanyakan: siapa yang seharusnya menanggung beban itu?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, “negara tidak akan ikut menanggung kerugian tersebut.
Pernyataan ini tampak tegas, namun di baliknya muncul tanda tanya besar:

Namun di baliknya muncul tanda tanya besar:
1. Apakah pembentukan Danantara sebagai superholding BUMN justru disiapkan untuk meredam risiko ini ?
2. Danantara, yang baru diluncurkan oleh Kementerian BUMN, diklaim sebagai wadah untuk memperkuat sinergi antar-perusahaan pelat merah di berbagai sektor, termasuk transportasi, infrastruktur, dan logistik. Namun, waktu kelahirannya menimbulkan tafsir lain. Apakah kebijakan ini muncul sebagai strategi penyelamatan terselubung, agar kerugian Woosh tidak langsung menekan APBN ?
3. Dalam kerangka fiskal nasional, proyek besar seperti Woosh sejak awal digadang sebagai simbol kemajuan, bukan beban. Namun ketika proyeksi penumpang tidak sesuai, biaya operasional melonjak, dan pinjaman membengkak, logika bisnis mulai diuji. Apakah ini murni risiko komersial, atau ada kesalahan kalkulasi sejak perencanaan ?
4. Jauhnya lagi proyek sebesar ini tidak mungkin tidak dilengkapi FEASIBILITY STUDY diawal, bagaimana hasil kajian feasibility study nya, apakah dikaji secara benar ataukah dikaji dengan adanya titipan ?
Pertanyaan lanjutan..
Mengapa pembentukan Danantara dilakukan berdekatan dengan sorotan kerugian Woosh?
Apakah ada aset atau kewajiban Woosh yang akan “dipindahkan” atau disamarkan dalam struktur holding baru ?
Jika benar Danantara adalah solusi, di mana akuntabilitas publiknya akan dijamin ?
Kebijakan besar sering kali lahir dari niat baik, tapi publik berhak tahu:
Apakah Danantara adalah strategi manajemen risiko, atau bentuk baru pengalihan beban finansial?
Transparansi dan keterbukaan informasi adalah kunci menjaga kepercayaan rakyat terhadap BUMN dan pemerintah. Sebab, tanpa kejelasan, setiap upaya “menyelamatkan” bisa tampak seperti upaya “menutupi.”
