Pasar KIARA CONDONG Kian sepi – ketika penataan SEMRAWUT mengusir pembeli

Bandung, Kiaracondong, yang dahulu menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi rakyat di Kota Bandung, kini tampak lesu.
Jumlah pengunjung terus menurun, dan banyak kios terlihat setengah terbuka tanpa transaksi berarti dan banyak kios yang tutup dilantai dua

Penyebabnya bukan semata daya beli masyarakat, melainkan penataan pasar yang semrawut dan minim pengawasan. Area parkir yang seharusnya menjadi fasilitas penting bagi pengunjung, kini berubah fungsi menjadi lapak pedagang eceran. Akibatnya, kendaraan pembeli kesulitan mencari tempat parkir, bahkan sebagian memilih untuk tidak singgah.

Ironi tak berhenti di situ. Tangga menuju lantai dua, yang seharusnya menjadi akses utama bagi pembeli ke kios di atas, juga dikuasai pedagang eceran. Barang-barang dagangan menutupi jalur, membuat pembeli enggan naik karena sempit, kotor. Bagi pembeli yang baru ke pasar ini, menganggap bahwa transaksi jual beli dipasar ini hanya dilantai dasar saja

“Kami mau naik ke atas saja susah. Tangga penuh pedagang, jadi malas. Akhirnya beli di luar saja,” ujar Deden, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi.

Pertanyaan pun muncul: ke mana peran pengelola pasar dan dinas terkait?
Apakah mereka menutup mata terhadap pelanggaran fungsi fasilitas publik ini, atau sekadar menunggu keluhan warga tanpa tindakan nyata?

Pasar rakyat seharusnya menjadi ruang ekonomi yang tertata, nyaman, dan aman bukan sekadar tempat transaksi tanpa arah.
Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin Pasar Kiaracondong hanya tinggal nama dalam sejarah perdagangan Bandung.

Berita Terkini