Covid-19 : Menurunkan Kualitas serta Berbagai Kendala Belajar – Mengajar

Bandung – Hingga saat ini, dunia masih terus berjuang melawan covid-19. Hingga tahun baru 2021 ini, ancaman pandemi covid-19 malah kian menggila. Tak mengherankan banyak orang bekerja keras untuk mencari vaksin demi mempertahankan hidup.

Di negara kita ini, sejak Maret 2020 kita mulai mengenal suatu kebijakan ‘adaptasi kebiasaan baru’ (AKB). Adaptasi kebiasaan baru ini menjadi hal wajib untuk dunia pendidikan berhadapan dengan covid-19 yang tetap saja menjadi momok tak kelihatan dan serentak menakutkan.

Bahkan dalam dunia pendidikan terlihat adanya upaya untuk segera kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Namun, rencana dan kerinduan untuk kembali ke arena belajar mengajar di kelas harus disimpan dulu demi kewaspadaan akan bahaya penularan virus covid-19.

Para siswa dan guru diwajibkan untuk tetap melaksanakan proses belajar mengajar dengan cara daring (online learning). Memang tidak se-efektif pengajaran tatap muka. Siswa atau mahasiswa harus puas dengan hanya mengikuti pelajaran lewat layar laptop dan smartphone.

Kendati banyak keluhan akibat adanya pelajaran dengan metode daring ini. Karena :

1. Keterbatasan komunikasi antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa.

Lantaran keterbatasan komunikasi, group discussion mahasiswa pun tak dapat dilaksanakan. Padahal, bagi mahasiswa, group discussion ialah kesempatan berharga untuk saling memperkaya konsep dan gagasan.

2. Tingginya biaya untuk pembelajaran daring. Hal ini disebabkan keharusan memiliki smartphone dan tentunya pulsa yang tidak sedikit.

Mungkin bagi mereka yang tinggal di perkotaan, soal memiliki telpon pintar dan pulsa itu masalah lumrah. Namun, bagi mereka yang tinggal di pedalaman dan perdesaan, memiliki telpon pintar, pulsa, dan jaringan internet merupakan suatu masalah serius.

3. Masalah mengenai Sumber Daya Manusia (SDM).

Tidak semua guru ataupun siswa terampil menggunakan teknologi yang berkaitan dengan pelajaran daring.

Segelintir keluhan tersebut merupakan tantangan nyata dalam dunia pendidikan akibat adanya pandemi covid-19. Lalu, bagaimana kita bersikap dalam kondisi seperti ini? Apakah kita hanya akan menyerah pasrah pada kesulitan-kesulitan di atas?

Kemendikbud menerbitkan Surat Edaran No 15/2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Tujuan dari pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) ialah memastikan pemenuhan hak peserta didik, untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat covid-19, melindungi warga institusi pendidikan dari dampak buruk, mencegah penyebaran, dan penularan dalam institusi pendidikan, serta memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan para orangtua.

Pemerintah memang tampak memotivasi dalam hal ini, pemerintah hadir lewat Kemendikbud sebagai motivator bagi institusi pendidikan dalam menghadapi tantangan pandemi covid-19.

Dengan adanya surat edaran dari Kemendikbud tersebut, mungkin bisa menumbuhkan kembali semangat juang belajar mengajar di masa-masa sulit ini agar tidak padamk.

Seperti semangat kewaspadaan, kreativitas, dan inovasi dalam diri pendidik dan anak didik harus tetap dikobarkan.

Hal lain yang bisa juga menjadi motivasi adalah Pembukaan UUD 1945 tentang negara dan bangsa hadir bersama kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lalu bagaimana semangat itu harus sampai dan difahami oleh berbagai kalangan di dunia pendidikan?

Semangat juang memerangi covid-19 harus tetap ada dalam mengayunkan langkah-langkah dalam kehidupan kita pada 2021. Semangat atau spirit ini tentunya berangkat dari rasa keyakinan atau keberagamaan kita bahwa kita tidak gampang menyerah pada tantangan.

Perlu kita yakini!, dalam hidup ini selalu ada jalan keluar dan selalu ada harapan bagi orang yang berkeyakinan hanya pada Tuhan.

Menurut pakar pendidikan Inggris Ian Matthews dalam bukunya, Social Work and Spirituality, menjelaskan spiritualitas sebagai berikut. Inti pemikiran tentang spiritualitas ialah kata spirit. Kata spirit adalah satu kata yang banyak dipakai dalam banyak konteks. Bisa saja digunakan, untuk hal-hal biasa dalam pergaulan sehari-hari. Namun, kata spirit ini dapat diterapkan pada konteks religius dan filosofis.

Ian Matthews menjelaskan spiritualitas ialah esensi manusia itu sendiri sebagai individu yang unik, yang membedakan aku dengan orang lain (me and you). Itulah daya kekuatan, energi, dan harapan hidup dari seseorang.

Terus belajar memahami agama, ibadah dan meningkatkan hubungan sosial (memperbanyak dan mempererat tali silaturahmi) sangat penting dalam hidup ini, karena tak dapat dipungkiri hal itu bisa membimbing kita, dan memotivasi kita.

Hal itu yang menambah spirit seseorang untuk survive dalam kondisi buruk mengatasi kesulitan-kesulitan dan menjadi diri sendiri. Dengan kata lain, spiritualitas merupakan ekspresi seorang manusia untuk membentuk dirinya sendiri dan menumbuhkan sumber kekuatan dari dalam dirinya, yakni sumber penopang di saat-saat kritis.

Spiritualitas jadi motivasi dalam kaitan dengan pendidikan di masa pandemik covid-19 ini, spiritualitas dapat menjadi motivasi bagi kita untuk bergerak maju demi pencerdasan putra-putri kita dan seluruh anak bangsa di negara ini.

Motivasi dari hal agama bisa menjadi pendorong kuat bagi anak-anak bangsa yang selalu percaya dan meyakini ke-Mahaan Tuhan agar bertahan dan bergerak maju serta menghidupkan gairah belajar dalam institusi pendidikan kita bersama dengan meningkatkan juga memperbaiki manajemen SDM-nya, yakni para kepala sekolah, para guru, siswa, dan orangtua, bahkan komite sekolah, pemerintah, dan organisasi-organisasi terkait.

Tentunya, dunia pendidikan tidak boleh menyerah pada kesulitan covid-19. Institusi pendidikan kita tidak bisa berlari meninggalkan kancah peperangan, membiarkan baik siswa maupun mahasiswa sekaligus masyarakat melangkah sendirian tanpa orientasi yang jelas.

Jalan satu-satunya memenangi peperangan ialah terjun ke tengah medan pertempuran itu sendiri, berusaha mengelolanya secara strategis, dan menghadapinya dengan berbagai metode dan cara.

Berarti, berhadapan dengan wabah virus covid-19 ini, Pemerintah dan institusi pendidikan harus mampu berjuang dengan penuh kewaspadaan, kreativitas, dan inovasi.

Dengan kata lain, berhadapan dengan perang melawan covid-19, sudah seharusnya pemerintah dan para pelaku pendidikan harus bisa mengadopsi kebiasaan baru dan menjadikannya suatu habitus setiap hari, untuk sesering mungkin mencuci tangan, menjaga jarak 1,5 meter, mengenakan masker, dan terus mengusahakan adanya kreativitas dalam pembelajaran daring.

Hal penting lainnya adalah daya tahan terhadap serangan covid-19 ini harus membuat kita lebih bekerja keras agar inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan dapat dimunculkan.

Untuk itu, kita kembali lagi kepada semangat dalam dada kita, kepada spirit untuk tidak gampang menyerah. Adapun salah satu kalimat yang perlu kita ingat dan terapkan dalam hidup kita, demi mengobarkan spirit dalam dada kita yaitu kalimat dari salah seorang Pahlawan Nasional kita Komodor Yos Sudarso. “Kobarkan terus semangat pertempuran di segala lini, khususnya di lini pendidikan“.

Dalam hal ini, seharusnya pemerintah harus lebih bijak dan lebih jujur dalam mengelola negara serta berbagai aspek yang ada di negara ini, termasuk dalam dunia pendidikan.

Pemerintah dan kaum politikus harus lebih menyadari kesulitan dan penderitaan rakyat dalam hal pendidikan, jangan manfaatkan dunia pendidikan sebagai keuntungan pribadi dan golongannya. Jangan politisir dunia pendidikan demi kesejahteraan dan kepentingan politik ataupun partainya. Karena hal itu akan merusak pendidikan dan generasi bangsa kita.

Penulis : Agus Jaya Sudrajat (Pemimpin Redaksi Media Times Jurnalis Indonesia, – Ketua Umum Forum Jurnalis Nusantara, – Wakil Ketua Umum Forum Media Indonesia Bersatu, – Ketua Ormas Laskar Banten DPC Kota Bandung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini