Renaissance Pendidikan Indonesia : Terjangkit, dalam proses bangkit dari sakit

Anak-anak Desa Ciberes tengah belajar membaca. Kegiatan ini berada dalam rangkaian acara kunjungan rutin Pemuda Peduli dalam Program Bina Desa yang dilaksanakan pada bulan Desember tahun lalu (20/12/2020).

Bandung, TJI – Renaissance memiliki arti kelahiran kembali yang berasal dari bahasa Perancis. Renaissance berlangsung sekitar abad ke-15 hingga 17. Perubahan signifikan terjadi di Eropa pada masa itu. Mulai dari arsitektur, seni, sastra, matematika, musik, filsafat, politik, agama, hingga sains.

                Pada era ini pun, Pendidikan mendapatkan pengaruh dengan banyaknya sekolah yang melaksanakan kurikulum berdasarkan bahasa dan sastra klasik sebagai sebuah sistem yang mendominasi di era ini.

                Kini, Pendidikan di seluruh dunia sedang dalam tahap pembangunan kembali. Adanya pandemi virus sedikit banyak terkena dampaknya. Perubahan besar-besaran mulai dari sistem hingga tata cara mengajar bagi tenaga pendidik kepada siswanya dilaksanakan secara online karena pembatasan sosial yang diberlakukan. Adaptasi menjadi satu pekerjaan rumah yang harus dilakukan seluruh masyarakat dalam menghadapi fase kegiatan belajar mengajar secara daring yang diberlakukan secara massive demi terjaganya pendidikan bagi generasi selanjutnya.

                Indonesia tak ketinggalan mengalami perubahan pada pendidikan nya. Adanya Pembelajaran Jarak Jauh menjadi sebuah jawaban pasti proses Indonesia mengejar bangkit pendidikannya di masa penyebaran virus saat ini.

Turunnya status Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), di beberapa daerah menjadi level 3 membuat pemerintah melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) demi memenuhi kebutuhan interaksi sosial siswa secara sesamanya maupun dengan gurunya yang sangat minim adanya ketika pembatasan sosial terjadi.

                Kendala terjadi ketika sekolah mengharuskan tenaga pendidik beserta siswanya wajib vaksin untuk melaksanakan PTMT sebagai syaratnya. Fakta bahwa belum meratanya vaksinasi dilakukan bagi seluruh siswa menjadi hal yang tak bisa dihiraukan begitu saja. Pun ketika siswanya telah selesai melakukan vaksinasi, ketakutan akan tertularnya virus ditengah pandemi yang masih bergulir menyebabkan kebanyakan orang tua ragu mengeluarkan izin untuk anak mengikuti PTMT di sekolah.

                Namun di sisi yang lain, tak bisa ditampik bahwa kebutuhan interaksi sosial bagi siswa merupakan satu hal yang harus dipenuhi. Permasalahan lain yang muncul karena diadakannya PTMT ini ialah pemenuhan fasilitas sebagai syarat sekolah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas yang dimaksud. Ancaman klaster sekolah menjadi problematika lain yang menguak karena hal ini. Kerumunan yang coba dikurangi dengan pembatasan maksimal 5-6 orang siswa per kelasnya ditambah satu orang tenaga pendidik dinilai masih belum cukup mengurangi ancaman klaster sekolah terjadi.

                Itu baru di wilayah perkotaan, bagaimana dengan mereka yang di daerah 3T?. Sebelum adanya pandemi virus pun, kebutuhan pendidikan menjadi momok yang harus diselesaikan dalam pemerataannya. Ditambah lagi di masa seperti saat ini pendidikan di daerah 3T semakin tinggi resiko tertinggalnya. Fasilitas menjadi faktor utama mengapa pendidikan di daerah 3T terasa tertinggal kemajuannya dari wilayah perkotaan.

Pemerintah, sebenarnya sudah banyak melakukan berbagai terobosan demi memenuhi kebutuhan pendidikan di daerah, Namun untuk efektivitasnya sendiri masih dipertanyakan adanya. Berbagai golongan masyarakat, mulai menyadari bahwa majunya pendidikan bangsa bukan hanya bergantung pada pemerintah saja, melainkan ini merupakan gerakan bersama yang harus dilakukan.

                Salah satunya, hadir dari Pemuda Peduli. NGO yang berdiri legal sebagai sebuah Yayasan dengan latar belakang fokus Pendidikan ini, sejak 2016 berperan aktif dalam ikut sertanya memajukan pendidikan Indonesia sampai ke daerah melalui ketiga programnya yaitu Bina Desa, Social Traveling dan Social Navigation.

                Bina Desa merupakan sebuah program pengajaran kepada anak-anak desa binaan Pemuda Peduli. Pengajaran yang dilakukan secara virtual dan non virtual 2 minggu 1 kali secara rutin dengan isi materi pembelajaran diantaranya sains, matematika dan literasi bahasa diharapkan dapat membantu adanya aktivasi pendidikan sampai daerah pelosok.

                Adapun ketiga desa binaan yang berada dibawah naungannya ialah Desa Ciberes, Desa Sirnajaya dan Cicangkang Hilir yang terletak di dua lokasi berbeda yaitu Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat.

                Said Alwy, selaku CEO dari Pemuda Peduli menerangkan bahwa program Bina Desa dari Pemuda Peduli memiliki tujuan untuk membantu tetap terjaganya pendidikan sampai ke daerah, terlebih lagi di masa pandemi yang terjadi hingga kini.

                “Kita coba menghadirkan Pendidikan secara utuh untuk mereka yang berada di sana. Kondisi pandemi saat ini, dan juga sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang sebagai penunjang Kegiatan Belajar Mengajar siswa itu sendiri” Jelasnya saat ditemui di Kantor Pemuda Peduli.

                Pendidikan Indonesia kini dalam berbagai proses naik turunnya mulai dari terjangkit turun karena adanya pandemi, ditambah lagi adanya Pembatasan Sosial yang diberlakukan membuat sektor ini terhambat dalam lajunya untuk berkembang. Dengan turunnya level dari PPKM yang terjadi membuat secercah harapan Pendidikan Indonesia dapat terbit kembali hingga bangkit dari sakitnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini